Friday, June 17, 2011

Datang atau Tidak...

Seorang hartawan akan melangsungkan pesta pernikahan bagi anaknya. Ia mempunyai seorang famili miskin yang tidak ingin diundangnya, karena ia tahu famili itu tidak mungkin mampu memberi sumbangan.
Namun demi menghargai adat istiadat, ia tetap harus mengundang famili miskin itu. Hartawan itu mengirimkan kartu undangan dengan menambahkan dua kalimat di atasnya:

Jika kamu datang, berarti kamu rakus.
Jika kamu tidak datang, berarti kamu pelit.

Hartawan itu tertawa dalam hati, hhmm, coba lihat kamu datang tidak, demikian ia membatin.
Pada hari H-nya, sang hartawan melihat familinya itu datang menghadiri pesta pernikahan anaknya.
Setelah mengucapkan selamat dan menyodorkan sebuah amplop merah (angpao/hongbao) pada sang hartawan empunya hajad, famili miskin itu berlenggang kangkung duduk dan menyantap makanan lezat yang tersaji.
Sang hartawan membuka angpao yang diterimanya, di dalamnya hanya terlihat satu lembar uang RMB 1 dolar (sekitar Rp 1.350) dengan selembar kertas bertuliskan:
Jika kamu terima, berarti kamu tamak.
Jika kamu tolak, berarti kamu menghina.

Komentar:

Kita harus belajar banyak dari famili miskin itu. Jangan cepat mengumbar amarah menghadapi setiap perlakuan tidak menyenangkan yang kita hadapi. Terima dengan sabar dan bereaksi dengan bijaksana.

Disadur dari artikel Mandarin “Xian Bing Xian”.

Hanya 10 Menit Saja

Seorang dokter yang  bertugas di sebuah desa sedang berkeliling ke rumah warga lalu mampir di rumah seorang petani. Ia terkesan oleh kepandaian dan sikap ramah dari anak si petani yang menyambut kedatangannya. Usianya kira-kira 5 tahun. Sang dokter penasaran mengapa anak itu begitu ramah.

Tak lama ia menemukan jawabannya, saat ayah anak itu tengah sibuk membelah kayu, si anak datang sambil membawa sebuah majalah.

"Yah, apa yang dilakukan pria dalam foto ini?" tanyanya.

Sang dokter tersenyum kagum ketika melihat ayah anak itu segera melepas sarung tangan dna meletakkan kapaknya, duduk di kursi, memangku anak itu dan menghabiskan waktu selama sepuluh menit untuk menerangkan serta menjawab berbagai pertanyaan buah hatinya.

Setelah anak itu pergi sang dokter menghampiri ayah dan berkata," Kebanyakan ayah tidak mau diganggu saat sibuk bekerja. Tapi mengapa anda tidak seperti itu?"

Dengan senyum si ayah menjawab, "Saya masih bisa membelah kayu dan pekerjaan lainnya selama sisa hidup saya tetapi pertanyaan-pertanyaan polos putra saya mungkin tidak akan terulang ladi di sepanjang hidup saya."

Thursday, April 7, 2011

Selalu Bersyukur Kepada Tuhan

Seorang Mandor bangunan yang berada di lantai 5 ingin memanggil pekerjanya yang sedang bekerja di bawah... Setelah sang mandor berkali-kali berteriak memanggil, si pekerja tidak dapat mendengar karena fokus pada pekerjaanya dan bisingnya alat bangunan...

Sang mandor terus berusaha agar si pekerja mau menoleh ke atas, dilemparnya uang 1000an yg jatuh tepat di sebelah si pekerja... Si pekerja hanya memungut uang 1000 dan melanjutkan pekerjaanya...

Sang mandor akhirnya melemparkan 10.000 dan berharap si pekerja mau menegadah sebentar ke atas... Akan tetapi si pekerja hanya lompat kegirangan karena menemukan uang 10.000 dan kembali bekerja...

Akhirnya sang mandor melemparkan batu kecil yang tepat mengenai kepala si pekerja... Merasa kesakitan akhirnya si pekerja menoleh ke atas dan dapat berkomunikasi dengan sang mandor....

Cerita tersebut di atas sama dengan kehidupan kita. Tuhan selalu ingin menyapa kita, akan tetapi kita selalu sibuk dengan urusan kita sendiri, sehingga tidak pernah menyempatkan diri untuk berkomunikasi dengan Tuhan. Kita diberi rejeki sedikit maupun banyak, sering kali kita lupa untuk menengadah ke atas dan bersyukur...

Jadi kadang TUHAN 'melempar' kerikil persoalan dalam hidup kita agar kita mau menengadah ke atas (berdoa) kepada TUHAN...

Thursday, March 31, 2011

“KOTAK SAMPAH!”

Sebulan lalu aku mendapatkan kiriman sebuah cerita pendek nan indah dari seorang temanku. Singkat ceritanya seperti di bawah ini:

Seorang penumpang dengan sang sopir taxi melaju dengan kecepatan tinggi menuju bandara. Tiba-tiba sebuah mobil melintas di depan mereka. Sang sopir taxi dengan sigap menginjak rem mobilnya dengan tiba-tiba, menyebabkan goncangan besar bagi sang penumpang. Apa yang terjadi kemudian? Sopir taxi yang hampir ketabrakan menurunkan kaca jendelanya, sambil memandang sang sopir ugal-ugalan itu ia hanya memberikan senyumnya yang indah kepadanya, melambaikan tangan dan meneruskan perjalanannya. Merasa aneh terhadap sikap sang sopir, si penumpang bertanya penuh keheranan: “Pa, tadi kita hampir mati karena kelakuan sopir ugalan itu, tapi apa yang bapa buat terhadapnya, malah tersenyum dan melambaikan tangan untuknya.” Sang sopir menurunkan kecepatan mobilnya dan berkata dengan penuh bijaksana: “Dewasa ini banyaki orang membawa sampah mereka dan ingin menuangkan ke dalam kotak sampah yang masih kosong. Menerima sampah mereka berarti menerima beban yang lebih berat lagi sementara kita sendiri pun memiliki beban. Karena itu, lebih baik tidak mengizinkan diri untuk memikul beban sampah mereka.”

Tak disangka kejadian serupa datang dalam kehidupanku semalam. Dalam perjalanan pulang ke rumah aku menumpang sebuah taxi dengan kecepatan tinggi. Keluar dari sebuah terowong, tiba-tiba aku berteriak: “my goodness”, sang sopir rupanya juga melihat apa yang kulihat sehingga dengan tiba-tiba mengerem mobilnya 1 meter di belakang sepeda motor honda yang tiba-tiba mencoba melintas di depan kami. Karena kepanikan sang pengendara kehilangan akal sehingga ia berhenti dalam kepasrahan di tengah-tengah jalan yang masih ramai itu. Rupanya ada sepasang sejoli muda-mudi yang karena kemabukan cinta, dengan seenaknya memutar arah motor honda mereka tanpa memperhatikan kendaraan lain yang masing berlalu lalang.

Mendapatkan pengalaman seperti itu serentak keluar dari mulutku: “Emangnya tidak mau hidup lagi?” Banyak lagi kata-kata hojatan yang keluar dari mulutku sementara sang sopir hanya diam terpaku memandang pasangan yang sementara kebingungan di atas sepeda motor mereka. Aku kemudian sadar bahwa aku telah mengeluarkan banyak kata yang tidak pantas sementara sang sopir hanya diam sambil memandang pasangan itu dengan senyum. Aku lalu menepuk bahunya dan mengatakan: “Sungguh, engkau seorang sopir yang luar biasa.” Ia kemudian membalasnya dalam bahasa Tagalog (bahasa national Filipina, yang aku sendiri tidak bisa menangkap maksudnya dengan baik).

Setelah kembali ke kamar, aku teringat akan cerita yang telah dikirimkan oleh temanku tentang “kotak sampah.” Benar, bukan hanya orang yang marah, kecewa, putus asa dan fustrasi yang berjalan sambil mencari tempat untuk membuang sampah mereka, tetapi juga mereka yang mengalami kegembiraan, kenikmatan dan kepuasaan yang berlebihan seperti pasangan muda-mudi tadi. Mereka merasa bahwa dunia ini hanya milik mereka berdua. Apakah ada bahaya atau larangan, itu tidak penting. Yang penting adalah mereka bisa merasakan kebahagiaan ketika mereka larut dalam kenikmatan sesaat. Mereka seakan mau mengatakan kepada orang lain bahwa silakan menyingkir dari sekitar kami karena dunia ini adalah milik kami berdua.

Dengan demikian, apa yang kita bisa pelajari dari kisah ini bahwa karena himpitan ekonomi, meningkatkan tingkat kesulitan hidup dan diombang-ambingkan oleh beragam problem hidup, orang-orang, termasuk kita sendiri pun kadang membawa sampah permasalahan hidup kita dan ingin membuangnya ke dalam kotak lain; Seorang suami/ayah yang menghadapi masalah di kantor ingin membuang sampah kemarahan ke dalam kotak sang istri dan anak-anaknya; Seorang istri/ibu yang bermasalah dengan teman-temannya ingin membuang sampah kejengkelan ke dalam kotak suami dan anak-anaknya; Seorang anak remaja/dewasa yang putus cinta atau mendapatkan kesulitan di sekolah ingin membuang sampah ke dalam kotak orang tuanya; Seorang muda yang memiliki sampah putus asa dan fustrasi karena belum mendapatkan pekerjaan atau pasangan hidup ingin membuang sampah ke dalam kotak teman-teman atau siapa saja yang ditemuinya; Seorang pembina yang memiliki sampah karena banyaknya tugas dan tanggung jawab yang diembannya, ingin membuang sampahnya ke dalam kotak anak binaannya; Seorang romo yang memiliki sampah dalam relasinya dengan pimpinan atau karena relasi pribadi ingin membuang sampah ke dalam kotak umatnya; Seorang suster yang merasa putus asa karena bekerja di daerah susah ingin membuang sampah ke dalam kotak saudari-saudarinya di komunitasnya; Dan akhirnya, kita bisa mengatakan bahwa setiap orang memiliki dalam dirinya sampah (kemarahan, kejengkelan, iri hati, dendam, putus asa dan beragama emosi negatif lainya) sekaligus juga ada kotak sampahnya masing-masing.

Ada dua hal yang bisa menjadi titik permenungan kita, yakni: di satu pihak, setiap orang sementara membawa dalam dirinya sampah emosi negatifnya sambil mencari kota orang lain untuk mengisi di dalamnya. Apa yang seharusnya muncul dalam kesadaran kita bahwa hendaklah kita tahu cara dan tempat yang cocok untuk membuang sampah kita. Sampah itu harus dibuang dari dalam diri kita, tapi memperhatikan cara dan memilih tempat yang cocok pasti tidak akan membuat lingkungan sekitar menjadi kotor atau nafas orang menjadi sesak hanya karena mencium busuknya sampah yang sementara kita buang. Namun, di lain pihak, kita masing-masing adalah pemilik kotak yang sementara dicari oleh orang, yang kebanyakan sampah untuk menjadi tempat buangannya. Oleh karena itu, seperti sang sopir yang tidak mengizinkan kotak hati dan pikirannya menjadi tempat pembuangan sampah orang lain, kita pun hendaknya menutup kotak kita ketika orang lain ingin membuang sampah ke dalamnya, ataukah jika Anda memang bersedia menjadi kotak bagi sampah orang lain, maka pastikanlah bahwa sampah itu tidak akan menjadi busuk di dalam kotakmu. Pastikanlah bahwa petugasnya akan datang mengambil pada waktunya. Untuk yang ini silakan setiap orang memaknainya. Sang sopir itu telah mengambil jalan yang benar ketika ia tidak mengizinkan dirinya untuk menghardik sopir ugal-ugalan, yang bukan hanya hampir menabrak dan merusakan mobilnya, tetapi juga bisa mengirimnya ke lembah kematian. Walaupun dalam kondisi sang sopir berada pada posisi benar dan tepat untuk memarahi pasangan yang sementara mabuk cinta itu, namun apa yang telah dibuatnya adalah memberikan senyum manis dan memafaatkan mereka yang bersalah kepadanya. Membalas dengan mendamprat yang bersalah bahkan yang melukai kita dengan kata dan perbuatan adalah tindakan membuka lebar-lebar kotak kita dan membiarkan orang lain mengisi sampah mereka ke dalamnya. Saudara, bukankah sampah yang Anda miliki saat ini di dalam dirimu sudah terlalu banyak dan berat? Kenapa Anda harus mengizinkan orang lain mengisi sampah mereka ke dalam kotakmu? Dimikianlah kedua sopir itu memberi pelajaran berharga kepada kita sekalian.

Oleh karena itu, lewat cerita singkat ini kita belajar untuk menjadi semakin bijak dalam menghadapi realitas hidup. Hidup bersama orang lain, tak bisa dilepaskan dari kenyataan bahwa kita hidup di tengah orang-orang yang ingin membuang dan menerima sampah. Benar, bahwa seharusnya kita menutup kotak sampah kita bila kita melihat orang lain yang berusaha untuk membuang sampah ke dalamnya. Namun, yang sebaliknya Anda juga bisa lakukan bila Anda betul-betul mempunyai sebuah kepribadian, iman yang kuat dan teguh. Apa yang aku maksudkan, yakni kita belajar dari Yesus, Sang Guru kita. Bukankah Ia yang hanya mempunyai kotak sampah besar yang kosong dan tidak pernah memiliki sampah, telah membiarkan kotaknya diisi dengan sampah-sampah kita? Bukankah setiap saat kita berdosa kita telah manambah berkilo-kilo berat sampah kita ke dalam kotak Yesus? Ia yang tidak memiliki sampah tapi rela menerima kotakNya terisi dengan sampah kita, bahkan yang lebih istimewa lagi bahwa Ia rela memikul sampah-sampah kita di dalam kotakNya. Tegakah hati kita untuk selalu membuat sampah baru sementara kita membebankannya kepada Yesus untuk memikulnya?

Kesempatan yang indah nan berahmat ini hendaknya digunakan oleh masing-masing untuk melihat kembali seberapa banyakkah sampah yang ada di dalam dirinya saat ini; melihat kembali cara membuang sampah itu dan akhirnya ke mana saja selama ini Anda membuang sampahmu? Ada yang pasti bahwa kita tidak seperti Yesus yang hanya memiliki kotak sampah, karena pada hakekatnya kita memiliki keduanya dalam diri kita saat ini, baik sampah maupun kotak sampah. Apa yang aku inginkan lewat tulisan ini, yakni kenalilah sampahmu, ciptakanlah cara yang bagus untuk membuang sampahmu dan carilah tempat yang cocok untuknya. Lebih luhur lagi bila Anda yang telah berada dalam tingkat kedalaman spiritual yang tinggi, pasti akan bersedia menjadi kotak sampah seperti Yesus. Biarlah kita memikul beban anak-anak kita, sahabat-sahabat kita, suami atau istri, anak didik dan umat kita. Bila Anda mampu menjadi kotak sampah seperti Yesus maka tentunya Anda telah membuat hidup dan dirimu menjadi berkat bagi orang lain. Biarlah kita menjadi tempat pembuangan sampah emosi-emosi mereka, asalkan lewatnya mereka bisa bertumbuh menjadi dewasa dan matang dalam hidup dan iman mereka. Aku percaya bahwa suatu waktu yang akan dibawa kembali ke rumah sang tuan adalah kotak sampah dan bukan sampahnya, bukan?

Marilah di sisa hidup kita, kita mengorbankan sedikit dari apa yang kita miliki demi kebahagiaan orang lain, demi usaha mereka untuk menggapai hari depan yang lebih cerah. Bukankah benih itu harus mati agar darinya bertumbuh tunas-tunas baru yang subur? Biarlah kita menjadi benih yang mati di dalam tanah agar menyuburkan tunas baru yang akan bertumbuh. Seperti apa yang Yohanes Pembaptis katakan; “Biarlah Ia menjadi besar, tapi aku harus menjadi kecil.” Yohanes percaya bahwa dalam tindakan seperti inilah derajat kemanusiaan sebagai seorang nabi tetap dikenang sepanjang masa, dan itulah yang berkenan kepada Allah. Saya tetap percaya bahwa siapapun Anda dan dalam keadaan apapun Anda saat ini, tapi ada yang pasti bahwa Anda mampu menjadi sebuah “kotak sampah” demi kebahagiaan hidup orang lain. Justru dalam pengorbananNya-lah kita mendapatkan kembali hak kita sebagai anak-anak Allah. Kita masih memiliki waktu untuk menunjukkan bahwa kita pun bisa seperti Yesus jika kita mempunyai kerelaan, kerendahan hati, iman dan harapan yang teguh akan kasih Allah, Yang selalu membalas perbuatan amal kita di dunia ini.Salam dan doa seorang sahabat untuk para sahabat.

Tuesday, February 1, 2011

Hiu Kecil dan Ikan Salmon

Untuk masakan Jepang, kita tahu bahwa ikan salmon akan lebih enak untuk dinikmati jika ikan tersebut masih dalam keadaan hidup saat hendak diolah untuk disajikan, jauh lebih nikmat dibandingkan dengan ikan salmon yang sudah diawetkan dengan es.

Itu sebabnya para nelayan selalu memasukkan salmon tangkapnya ke suatu kolam buatan agar dalam perjalanan menuju daratan, salmon-salmon tersebut tetap hidup

Mesti demikian pada kenyataannya banyak salmon yang mati di kolam buatan tersebut

Bagaimana caranya mereka menyiasatinya?
Para nelayan itu memasukkan seekor hiu kecil di kolam tersebut. Ajaib! Hiu kecil tersebut "memaksa " salmon-salmon itu terus bergerak karena jangan sampai dimangsa
Akibatnya jumlah salmon yang mati justru menjadi sangat sedikit!

Diam membuat kita mati! Bergerak membuat kita hidup.
Barangkali kurang lebih itulah pesan moral yang dapat kita tangkap dari gambaran tersebut di atas.

Apa yang membuat kita diam? Saat tidak ada masalah dalam hidup dan saat kita berada dalam zona nyaman

Situasi sperti ini kerap membuat kita terlena. Begitu terlenanya sehingga kita tidak sadar bahwa kita telah mati. Ironis , bukan?

Apa yg membuat kita bergerak?
Masalah, pergumulan dan tekanan hidup.
Saat masalah datang secara otomatis naluri kita membuat kita bergerak aktif dan berusaha bagaimana mengatasi semua pergumulan hidup itu

Di saat saat seperti itu biasanya kita akan ingat Tuhan dan berharap kepada Tuhan. Tidak hanya itu, kita menjadi kreatif, dan potensi diri kitapun menjadi berkembang luar biasa!

Ingatlah bahwa kita akan bisa belajar banyak dalam hidup ini bukan pada saat keadaan nyaman, tapi justru pada saat kita menghadapi badai hidup

Itu sebabnya syukurilah "hiu kecil" yang terus memaksa kita untuk bergerak dan tetap survive!

Masalah hidup adalah baik, karena itulah yang membuat kita terus bergerak...

Tuesday, September 21, 2010

Make a Great SEX

Dikisahkan, pada sebuah malam hujan badai bertahun tahun yang lalu, ada seorang laki-laki tua dan istrinya masuk ke sebuah lobby hotel kecil di Philadelphia untuk mendapatkan tempat bermalam dan menghindari hujan.

“Dapatkah Anda memberi kami sebuah kamar di sini?” tanya sang suami kepada si pelayan.

Sang pelayan, seorang laki-laki ramah dengan tersenyum memandang kepada pasangan itu dan menjelaskan bahwa ada tiga acara konvensi di kota, “Semua kamar kami telah penuh,” pelayan berkata.

“Tapi saya tidak dapat mengirim pasangan yang baik seperti Anda keluar kehujanan pada pukul satu dini hari. Mungkin Anda mau tidur di ruangan saya? Tidak terlalu bagus, tapi cukup untuk membuat Anda tidur dengan nyaman malam ini.” Ketika pasangan ini ragu-ragu, pelayan muda ini membujuk.
“Jangan khawatir tentang saya. Saya akan baik-baik saja” kata sang pelayan.
Akhirnya pasangan ini setuju.

Keesokan pagi harinya, laki-laki tua itu berkata kepada sang pelayan,
“Anda seperti seorang manager yang baik yang seharusnya menjadi pemilik hotel terbaik di Amerika. Mungkin suatu hari saya akan membangun sebuah hotel untuk Anda”.
Sang pelayan melihat mereka dan tersenyum.
Mereka bertiga tertawa. Saat pasangan ini dalam perjalanan pergi, pasangan tua ini setuju bahwa pelayan yang sangat membantu ini sungguh suatu yang langka, menemukan seseorang yang ramah bersahabat dan penolong bukanlah satu hal yang mudah.

Dua tahun berlalu…

Sang pelayan hampir melupakan kejadian itu ketika ia menerima surat dari laki-laki tua tersebut. Surat tersebut mengingatkannya pada malam hujan badai dan disertai dengan tiket pulang-pergi ke New York, meminta laki-laki muda ini datang mengunjungi pasangan tua tersebut.


Laki-laki tua ini bertemu dengannya di New York, dan membawa dia ke sudut Fifth Avenue and 34th Street. Dia menunjuk sebuah gedung baru yang megah di sana, sebuah istana dengan kemerahan, dengan menara yang menjulang ke langit.
“Itu”, kata laki-laki tua, “adalah hotel yang baru saja saya bangun untuk engkau kelola.”
“Anda pasti sedang bergurau,” jawab laki-laki muda.
“Saya jamin tidak,” kata laki-laki tua itu, dengan tersenyum lebar.

Nama laki-laki tua itu adalah William Waldorf Astor, dan struktur bangunan megah tersebut adalah bentuk asli dari Waldorf-Astoria Hotel.

Laki-laki muda yang kemudian menjadi manager pertama adalah George C. Boldt. Pelayan muda ini tidak akan pernah melupakan kejadian yang membawa dia untuk menjadi manager dari salah satu jaringan hotel paling bergengsi di dunia.

———–

Para Pembaca yang Budiman, setelah membaca artikel ini tentu akan merasa bingung, apa hubungan dari judul di atas dengan isi dari artikel ini. Sebenarnya yang dimaksudkan dengan SEX di sini adalah Service EXcellent.. Memang, dengan servis prima kita bisa saja mendapatkan hasil yang berlipat ganda, masih banyak contoh yang bisa kita petik dari SEX ini.

Great SEX make our life better..
Layani dan perlakukan semua orang dengan kasih, kemurahan dan hormat, dan anda tidak akan gagal.

Wednesday, August 18, 2010

Hargailah Seorang Pramugari

Bagi Anda yang pernah atau sering bepergian dengan menggunakan pesawat terbang, maka tentulah tidak asing dengan tugas seorang pramugari dan apa saja yang dilakukan oleh seorang pramugari dalam pesawat. Tidak jarang penulis melihat ada penumpang pesawat yang melanggar ketentuan seperti masih menyalakan telepon selulernya ketika sudah berada di dalam pesawat, atau tidak bersedia mengenakan sabuk pengaman, atau menurunkan sandaran tempat duduk, sehingga ditegur oleh pramugari. Apabila penumpang yang ditegur ini kurang berkenan, kadang penumpang tersebut malah memarahi pramugari. Apalagi jika pesawat yang tertunda keberangkatannya dalam waktu yang lama, maka sasaran kemarahan bagi para penumpang adalah sang pramugari. Kadang penulis membayangkan, apabila penulis yang berada di posisi sang pramugari, tentulah akan sangat emosi apabila penulis diperlakukan seperti itu.

Berikut sebuah artikel yang dikutip dari situs kompas.com mengenai tugas seorang pramugari, kiranya tulisan ini dapat menjadikan bahan renungan buat kita semua.

10 Rahasia Terbesar Pramugari

Anda pernah membaca kisah Steven Slater, pramugara JetBlue Airlines yang nekad keluar dari pesawat karena kesal dengan ulah penumpang? Muak dengan ulah seorang penumpang perempuan yang sulit diatur, Slater meraih intercom untuk mengucapkan selamat tinggal, mengambil bir di dapur, lalu membuka pintu pesawat, menggelar parasut untuk evakuasi, lalu meluncur keluar. Saat itu, JetBlue Flight 1052 baru mendarat di bandara JFK, New York City, dari Pittsburgh, dan sedang berjalan perlahan menuju gate di bandara. Insiden tersebut membuat Slater ditahan oleh polisi.

Ulah Slater memang sangat tidak bertanggungjawab, namun alasan di balik tindakan nekadnya bisa dimengerti. Ulah penumpang yang semaunya sendiri memang menjadi santapan sehari-hari awak kabin di penerbangan manapun. Maka, untuk membuat penerbangan menjadi aman dan nyaman (serta tepat waktu), ada baiknya Anda mengetahui apa saja yang dihadapi pramugara-pramugari di atas pesawat.

1. Memastikan keselamatan penumpang
Apa pekerjaan seorang pramugari? Mereka memang bertugas melayani kebutuhan dan kenyamanan Anda selama di dalam pesawat, tetapi yang terpenting adalah memastikan keselamatan Anda. "Orang sering menganggap peraturan di dalam pesawat itu mengganggu, tapi sebenarnya ada alasan di balik setiap aturan tersebut, yaitu menjaga keselamatan Anda," ujar Sara Keagle, mantan pramugari yang juga pemilik blog TheFlyingPinto.com.

2. Bekerjasama akan sangat membantu
Bagian paling sulit dalam suatu penerbangan adalah boarding, karena proses penyimpanan bagasi bisa sangat merepotkan. "Jika penumpang mau bekerjasama, dan tidak hanya memikirkan diri sendiri, itu akan membuat pekerjaan kami jauh lebih mudah, dan membantu penerbangan tepat pada waktunya," ujar Teresa, mantan pramugari yang pernah bekerja untuk Delta Air Lines. Anda bisa membantu penumpang lain seperti tidak berlama-lama berdiri di lorong ketika akan menyimpan barang di overhead bin. Bantu juga penumpang yang kesulitan menyimpan barangnya.

3. Bukan restoran di udara
Selalu ingat bahwa penerbangan bukanlah suatu tempat fine dining. Menurut Ellen, mantan pramugari dari United Airlines, airlines tidak selalu menyiapkan 100 persen pilihan hidangan yang ada di buku menu. Jadi, Anda harus menerima jika apa yang Anda minta tidak tersedia. "Anda sedang berada di atas 747, bukan di 7-Eleven," tukas Gary, mantan pramugara dari airlines yang sama.

4. Jangan lupa "tolong" dan "terima kasih"
Tugas pramugari memang melayani Anda, tetapi tidak berarti mereka bisa disuruh-suruh oleh penumpang. "Sangat berarti buat saya kalau orang membalas sapaan 'Selamat pagi' ketika saya menegur mereka," ujar Lisa Lent, seorang pramugari. Menurut Teresa, penumpang pun sering membawakan hadiah kecil seperti permen untuk awak kabin. Atau, menawarkan majalah yang sudah selesai dibaca. Hal-hal kecil itulah yang membuat pramugari merasa dihargai.

5. Mabuk di atas ketinggian 35.000 kaki
"Karena high altitude, pengaruh alkohol memang sangat terasa ketika Anda terbang," papar Fanny Delaunay, mantan pramugari Air France. Jika Anda mulai terlihat mabuk atau sulit diatur, pramugari bertanggungjawab untuk mengontrol situasi tersebut. Kalau pramugari juga sudah melihat bahwa Anda terlalu banyak minum, mereka akan tetap memberikan minuman, tetapi tidak sepenuhnya berisi alkohol. "Kami mungkin hanya mencelup tepi gelas dalam vodka atau gin, lalu mengisi sisanya dengan campuran lain," kata Ellen.

6. Mata dan telinga pilot
Jangan lupa, flight attendant bertugas memastikan keselamatan Anda, bukan melayani semua kebutuhan Anda. Mereka telah menjalani training, termasuk pelatihan untuk kondisi medis darurat, CPR (Cardiopulmonary resuscitation), dan cara mengevakuasi dari pesawat.

"Karena kebanyakan penerbangan tidak menemui masalah keamanan, untungnya, sebagian orang meyakini bahwa kami ini hanya tukang membawa bagasi dan penyaji minuman, dan tidak menyadari bahwa pramugari itu dilatih untuk menjamin keselamatan dan kenyaman penumpang," ungkap Agnes Huff, PhD, mantan pramugari US Airways dan Pacific Southwest Airlines.

Menurut Sara Keagle, karena pilot tidak bisa melihat ke dalam area penumpang, mereka bergantung pada mata dan telinga pramugari. Pramugarilah yang harus waspada dengan apa yang terjadi di dalam pesawat, dan menginformasikan pilot bila ada situasi darurat.

7. Intim saat takeoff dan landing
Meskipun baru bertemu di atas pesawat selama beberapa menit, hal-hal mengejutkan bisa terjadi antara pramugari dan penumpang. Mendadak pramugari bisa menjadi sahabat penumpang, seolah-olah sudah kenal bertahun-tahun. "Saya pikir kepercayaan itu datang setelah mengetahui bahwa kami saling bahu-membahu dalam kondisi darurat," tutur Gary. Menurutnya, pembicaraan paling intim terjadi saat takeoff, taxiing (ketika pesawat baru mendarat dan berjalan perlahan menuju gate di bandara) dan landing. Saat itulah terjadi ikatan antara penumpang dan awak kabin.

8. Masuk toilet harus ada waktunya
Anda tahu kan, ketika sudah diumumkan untuk mengencangkan sabuk pengaman, masih ada saja penumpang yang justru masuk ke toilet. Padahal, kejadian ini bisa membuat penerbangan ditunda. Jika seseorang sedang menggunakan toilet, pramugari harus memberitahu pilot, dan pilot harus menghentikan pesawat (jika sudah bersiap takeoff) sampai penumpang kembali ke kursinya dan mengencangkan sabuk pengaman.

Bukan hanya itu, menggeser-geser kereta makanan seberat 150 kg kembali ke dapur hanya karena ada satu penumpang yang ingin menggunakan toilet, adalah hal paling mengganggu buat mereka.

9. Tiga kali lipat lebih lelah
Duduk di dalam pesawat selama berjam-jam bukan hanya membosankan bagi penumpang, tetapi juga untuk pramugari. Pramugari biasanya sudah harus siap di pesawat satu jam sebelum penumpang bersiap untuk penerbangan, bahkan beberapa jam sebelumnya mereka sudah harus ada di bandara. Jadi jika Anda merasa lelah, kalikan kelelahan itu tiga kali untuk memahami betapa melelahkan tugas seorang pramugari.

10. Bertemu penumpang adalah hal paling menyenangkan
"Salah satu bagian favorit saya dari pekerjaan ini adalah mendapatkan obrolan yang berarti dengan orang-orang yang menyenangkan," kata Fanny. Mungkin karena didorong ketakutan untuk terbang, atau karena keajaiban di atas udara, sehingga orang cenderung terbuka dan senang bercerita mengenai dirinya. Pramugari banyak belajar hal baru dari sini.

DIN